Kompetisi Blog • Studi di Belanda
“ PSSI minta bantuan federasi sepak bola Belanda untuk mencari pelatih dan direktur teknik…”, begitu beberapa harian di Tanah Air awal Februari kemarin mengabarkan. Bukan sepak bola yang memenuhi benak saya, tetapi kata Belanda yang kemudian mengajak saya menerawang jauh.
Belanda memang selalu menarik untuk dibicarakan orang Indonesia, mulai dari sepak bolanya sampai sejarahnya sebagai bangsa Eropa yang terlama pernah tinggal “serumah” dan berbagi budaya dengan kita.
Tulips
(http://www.freefoto.com)
Bunga-bunga
Sebagai penemu Total Football, prestasi sepak bola Belanda memang sudah mendunia meskipun belum pernah menjadi juara piala dunia. Prestasi cemerlang Belanda di sepak bola mungkin belum sesukses leluhur mereka yang membangun VOC (Verenigde Oost-Indische Compagnie), yang pernah menjadi perusahaan dagang paling sukses di dunia, yang kabarnya pada masa jayanya memiliki 1500 kapal dan merupakan pengirim terbanyak warga Eropa ke Asia. VOC pula yang menjadi perusahaan pertama di dunia yang memperkenalkan saham sebagai instrumen untuk mengumpulkan modal bagi perusahaan, meskipun perusahaan ini kemudian bangkrut karena korupsi (konon di saat kebangkrutannya VOC diplesetkan dengan singkatan Vergaan Onder Corruptie, alias tutup karena korupsi).
Prestasi dagang ini pula yang menjadikan Amsterdam kota dagang penting dunia (menarik untuk diketahui bahwa Amsterdam merupakan bursa saham tertua di dunia, meskipun ketika membicarakan saham orang sekarang lebih kenal New York Stock Exchange maupun London Stock Exchange). Sebuah fenomena yang perlu untuk direnungi bahwa di negeri relatif kecil ini terjadi perdagangan komoditas yang sebenarnya dihasilkan orang lain, ribuan kilometer nun jauh di belahan bumi lainnya.
Kesadaran akan kondisi wilayah juga telah mengantar bangsa ini menjadi ahli mengatur banjir. Dengan 50% wilayah bertinggi kurang dari 1 meter diatas permukaan laut, bahkan 20%-nya dibawah permukaan laut menjadikan bangsa ini sangat sadar diri untuk memupuk keahlian membuat dam dan mereklamasi pantai. Karena keahlian itu pula, Palm Jumeira dan The World, pulau buatan yang dibangun di Dubai itu diserahkan pengerjaannya kepada para ahli Belanda.
Di negeri ini pula terletak The Hague yang dikenal sebagai ibukota hukum dunia, karena disana berlokasi the International Court of Justice, the International Criminal Tribunal for the Former Yugoslavia dan the International Criminal Court.
Dan deretan bunga-bunga itu akan bertambah dengan munculnya nama-nama tak asing seperti Van Gogh, Rembrandt, Philip, Shell …
Batang
Memang kemudian sangat relevan bila karena prestasi-prestasinya Belanda menjadi salah satu kiblat orang dan bangsa yang ingin mengembangkan diri, termasuk kita. Darinya kita dapat belajar mengatasi banjir-banjir yang tiap musim hujan beritanya menghiasi televisi dan koran kita. Atau belajar mengatasi praktek-praktek korupsi karena keberhasilannya menduduki ranking Corruption Perceptions Index ke 7 dari 179 negara, (versi Transparency International 2008. Indonesia urutan ke 126). Atau belajar teknik memerah susu dan bertani dengan baik, yang telah membuat negara kecil dan terpadat di Eropa itu bisa menjadi salah satu pengekspor hasil pertanian berkualitas tinggi (menarik untuk dicatat, bahwa dari 3.5 juta hektar luas daratan Belanda, dua jutanya digunakan untuk tanah pertanian dan peternakan). Atau belajar manajemen dari KLM yang telah menjadi salah satu maskapi penerbangan udara terbesar dan tertua di dunia, di negeri yang penduduknya sangat bersahabat dengan sepeda kayuh itu. Atau belajar sederet kemampuan lainnya yang memang lebih dulu dikuasai oleh bangsa ini.
Namun demikian, dibalik semua teknik dan inovasi kasat mata itu, ada hal yang tidak kalah menarik untuk dipelajari, bagi siapapun yang memiliki kesempatan; Mengapa sama-sama beresiko kebanjiran, bangsa yang lain menjadi obyek bantuan kemanusiaan tapi bangsa Belanda dapat melahirkan para ahli? Atau mengapa negeri yang untuk menyediakan tempat tinggal bagi rakyatnya saja harus mengeringkan lautan ini bisa menjadi pengekspor hasil bumi bermutu tinggi? Atau kenapa negeri yang untuk mengelilingi wilayahnya tidak perlu pesawat itu memiliki salah satu maskapi penerbangan terbesar di dunia? Atau mengapa ia mendapat ranking 1 dari UNICEF dalam kesejahteraan anak? Atau, mengapa ia bisa memberantas korupsi?
Akar
Banyak yang dapat dibicarakan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Namun mungkin salah satu kesimpulannya adalah, ternyata hukum-hukum alam masih belum berubah. Kemauan untuk mengatasi kekurangan sering bisa lebih memuliakan daripada perasaan cukup karena kelebihan. Keseriusan negeri Belanda untuk mengatasi kelemahan negerinya telah memberikannya potensi dan kekuatan.
Membayangkan ini, teringat kita akan salah satu filosofi mengenai pohon jati. Kata orang tua, pohon jati yang kuat adalah yang tumbuh di tanah gersang dan tandus. Ternyata Si Bunga Tulip itu berbatang pohon jati.
Memang akan selalu beruntung orang yang bisa mengambil manfaat dari kebaikan dan mengambil pelajaran dari keburukan. Dengan pemikiran itu, bisa jadi bukan sebuah harapan yang terlalu aneh apabila kita berharap untuk memiliki kekuatan-kekuatan baru dari badai-badai permasalahan dan kelemahan yang menyelimuti kehidupan kita saat ini.
Pepatah China mengatakan, when the storm comes, most build walls while others build windmills. Mungkin memang kita harus berguru ke negeri yang lebih dahulu membangun windmill itu…
Windmills
(http://www.freefoto.com/)
Referensi:
1. http://www.holland.com/meetings/uk/about-holland/dutch-icons/voc/index.jsp
2. http://en.wikipedia.org/wiki/Dutch_East_India_Company
3. http://id.wikipedia.org/wiki/The_Palm_Islands
4. http://id.wikipedia.org/wiki/Banjir_Kanal_Jakarta
5. http://www.heritage.org/index/country/Netherlands
6. http://www.netherlands-embassy.org/files/pdf/dairy.pdf
7. http://www.freefoto.com/

